Sunday, January 26, 2014

Holiday Part III (Coban Rondo, Paralayang, BNS)

Here comes to the last part. Saya, Bell dan Lili tentu memaksimalkan hari terakhir dengan mengunjungi sebanyak mungkin tempat wisata. Tetap bersama couple partner yang setia nan baik hati, Kak Fandy dan Kak Mega. Sekitar jam 12 siang kita jalan menuju Kota Wisata Batu. Destinasi pertama adalah Air Terjun Coban Rondo. Karena kita datang saat tanggal merah, maka tak heran pengunjung hari itu membludak. Rame sekali. Namun, itu tak menghalangi kita melihat pesona air terjun Coban Rondo. Saat berjalan menuju lokasi, kita akan bertemu dengan kera-kera yang berkeliaran, hihi. Minggu lalu saya sempat pergi ke air terjun Tunan, Likupang Manado dan sempat membandingkan dengan yang satu ini. Tak jauh berbeda, cuma air terjun Coban Rondo lebih deras. Jika kita semakin mendekat ke sumber air rasanya seperti dibasahi gerimis hujan. Agak repot juga saat mengambil foto, soalnya harus gerak cepat supaya gadget ga basah dan tentu tempatnya licin jadi harus ekstra hati-hati.



Selesai menikmati air terjun, kita kembali berjalan keluar dan tak lupa mencicipi jajanan yang dijual di area Coban Rondo. Banyak sekali pilihan disini, ada kentang goreng, pisang goreng, tahu isi dan cilok. Cilok rasanya asing di telinga kita, jadi kita coba. Ternyata cilok ini isinya bakso, tahu, pangsit plus bumbu kacang dikemas di kantong plastik dan dinikmati dengan tusuk. Yuuuum!



Mari kita come on ke destinasi kedua yang tak kalah okenya. Masih dengan wisata alam, kini kita menuju Wisata Paralayang Batu. Jalan menuju kesana lumayan ekstrim, tak semulus yang saya kira. Sempit, berbatu dan dekat jurang. Pas turun dari mobil, langsung diterpa angin kencang. Lagi-lagi kita berada di ketinggian. Masuk ke area dan tiba-tiba hujan deras, kita langsung berteduh di warung terdekat. Oh iya, warung disini tuh semuanya lesehan, mereka jualan semua yang menghangatkan seperti kopi hangat, teh hangat, pop mie, dsb.

Menyebalkan juga ya baru datang, eh malah hujan. Pasrah, sabar. Saat hujan reda, ternyata muncul pelangi! Ada dua lagi. Semua pengunjung dan saya langsung riuh dan lari dari tempat berteduh untuk mengabadikan momen langka tersebut. Tuhan Maha Adil. :)

Kemudian kita jalan-jalan di area paralayang dan masih tetap eksis dengan kamera walaupun diterpa angin kencang. Mendadak hujan turun lagi, kita yang lagi asyik harus lari mencari tempat berteduh. Nasib.. nasib. Tidak lama kemudian hujannya reda, kita berenam segera mengambil spot terbaik untuk menikmati pemandangan kota Batu dan Malang yang maha indah. Sambil menunggu malam saat lampu-lampu mulai dinyalakan yang katanya bagus banget, kita dengan sendirinya menjalin keakraban satu sama lain. Intinya sih saya, Bell, Lili dan terutama Rani iseng jadi kompor kedua kakak kita untuk balikan haha. Don't worry true love will find a way, kok.


Karena awan yang makin hari menutup pemandangan kota, jadi kita cuma sampe maghrib. Tapi sempat kok menyaksikan lampu-lampu kota menyala saat mulai gelap dan ketika berbalik arah ada goresan oranye di langit sisa cahaya matahari terbenam. Cantik! Romantis! Asyik banget pacaran disini. Tapi tetap anginnya itu loh. Walaupun sudah di dalam mobil, masih tetap menggigil selama beberapa menit. Brrrrrr.


Lalu kita lanjut ke Alun-Alun Kota Wisata Batu. Semua yang ada disini serba unik, toilet bentuk apel, ruang informasi bentuk stroberi. Ada banyak kolam air mancur, arena bermain anak (perosotan, ayunan), lampion berbagai bentuk dan warna serta bianglala super besar yang bisa dinikmati seharga tiga ribu rupiah saja per putaran. Murah, kan? Disini disediakan banyak tempat duduk dan tentu kebersihannya terjaga. Salut sama pemerintah kota Batu!
Tak lupa kita mampir ke ketan legenda yang sering didatangi artis-artis ibukota. Ketan yang diolah dengan berbagai rasa ini merangkul banyak penggemar. Tak heran kita harus antri untuk merasakan ketan legenda. Ada ketan durian susu, ketan meses susu dan masih banyak lagi yang tak kalah enak. Kalau penasaran langsung saja datang kesini. Sekitar sepuluh meter dari alun-alun.


Kelar menyantap ketan, kita menuju ke destinasi terakhir yaitu Batu Night Spectacular (BNS). Saking senangnya, saya, Bell, Lili dan Rani sampe lari-lari kecil menuju loket. Melihat banyak wahana yang ada, kita langsung mencoba satu demi satu. Di BNS, kita harus beli tiket per wahana seharga 12.500 rupiah. Wahana pertama yang kita coba adalah kursi terbang, rasanya kayak naik ayunan versi super. Super kencang dan super tinggi! Hahahaha! Lalu kita naik semacam kereta yang berputar di ketinggian tujuannya untuk menikmati area BNS. Menyenangkan. Setelah itu kita masuk ke Lampion Garden nah disini banyak lampion warna-warni dari kecil sampai besar dari bentuk rumah disney, monas, menara petronas sampai menara eiffel. Sayang, kita ga bawa kamera dslr. Jadi, hasil foto-foto wajah kami hanya seadanya. Padahal tempatnya cantik sekali. Abis dari sini, kita main satu wahana lagi sebelum pulang. Saya lupa namanya apa, yang pasti itu mutar dan naik turun. Kalo naik wahana ini kita bisa dapat bonus pemandangan kota Batu malam hari. Keren ya!





Malam makin larut, energi sudah terkuras, mari kita pulang. Sedih sekali besok meninggalkan kota Malang. Kalau ada kesempatan, pasti mau balik kesini. Belum ke pantainya, huhu. Terima kasih Kak Fandy dan Kak Mega yang merelakan waktunya menemani kami selama di Malang dan Batu. Sampai jumpa!

No comments:

Post a Comment