Friday, January 24, 2014

Holiday Part I (Bromo)

Gara-gara nonton Jebraw - Naya di Jalan-Jalan Men dan hasil iseng mampir ke instagram para traveler yang hobi motret tempat-tempat bagus di Indonesia bikin saya penasaran dan ingin mencoba juga seperti mereka. Soalnya asyik sekali bisa jalan-jalan apalagi di negeri sendiri. Salah satu tempat yang paling hits menurut saya dan sangat ingin dikunjungi yaitu Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Walaupun sudah cukup banyak orang tahu, tempat ini tetap jadi pesona yang tak terkalahkan. Di tempat ini kita bisa menikmati terbitnya matahari, luasnya padang savana, serta indahnya kawah gunung Bromo.

Kelar urusan akademik. Saya mengambil ancang-ancang untuk berlibur ke Malang. Kebetulan adik sepupu saya, Rani tinggal disana. Setelah perbincangan dan perencanaan yang cukup alot dengan teman-teman serta izin orang tua masing-masing yang telah berhasil dikantongi akhirnya terkumpul empat serangkai pemberani yang resmi berangkat; Lili, Bell, Abdul dan saya sendiri.

Tepat tanggal 11 Januari 2014 kita berempat memulai perjalanan selama kurang lebih 2,5 jam dari Manado ke Surabaya, lalu dilanjutkan dengan mobil travel ke Malang dengan waktu tempuh yang kurang lebih sama yaitu 2,5 jam. Perjalanan tak begitu meletihkan selama bersama teman-teman. Kita bisa ngobrol apapun, update socmed sana-sini sambil membunuh waktu. Serius, saya malah jarang ketiduran pas sama mereka tapi masih bisa baik-baik aja ga rasa capek, hehe. Setibanya di Malang, saya, Bell dan Lili menginap di kostan Rani. Lalu, Abdul  di kostan pacarnya Rani. Enak banget ya hidup kita berempat disini, dikasih tumpangan gratis.


Sampe di kost jam setengah tujuh malam, kita istirahat terus ngobrol sebentar sama Rani,
"Bentar jam sepuluh kalo ga hujan langsung jalan ya, mau langsung ke Bromo kan liat sunrise?" 
Serius, saat itu saya bahagia sekali tapi badan mau rontok gara-gara baru nyentuh kasur.
"Oke, Ran. Ayok!"
Sekalian biar ga membuang waktu, saya segera mengiyakan tawaran menggiurkan itu.
"Kita kesana sekitar empat/lima jam-an naik motor."
Mungkin kalo saat itu saya lagi minum air, antara muncrat atau tersedak ga tau deh. Bertiga kaget lalu hening dan saling tatap-tatapan.
"Iya, Ran. Oke. Kita langsung istirahat ya."
Rani pun pergi meninggalkan kita. Jahat banget ya kita? Menginap di kost dia, tapi dia menginapnya di kost temennya. Maafin kita ya. Tapi kita bertiga masih shock knowing that we'll go there by motorcycle at night for hours. What a challenge! 
  
Kita benar-benar memanfaatkan waktu yang tersisa untuk tiduran, selimutan dan tiba-tiba kita lupa kalo..... belum makan malam! Seketika saya yang cerewet dan panik, masalah utama apa jadinya perut kita kalo kosong melompong selama perjalanan dan kita belum tau tempat makan dekat sini, masalah kedua singgah di restoran nanti bikin telat liat sunrise. Lalu, Bell menenangkan dengan dua bungkus nasi kuning asli Komo yang ia bawa untuk teman-teman kakaknya. Kata dia kalo sampe jam sepuluh nanti, nasi kuning belum diambil berarti jadi hak milik kita. Oke, nasi kuning adalah harapan kita satu-satunya saat itu. Namun, apa daya harapan hanyalah harapan waktu kedua teman kakaknya datang menjemput nasi kuning. Yahhhh ;(

Selang beberapa waktu mereka pergi dan melahap naskun komo itu. Bell memberanikan diri bertanya tempat makan dekat kost ke salah satu kakak via BBM. Ia kemudian membalas pesan tersebut dan mengajak kami makan. Akhirnyaaaaa! Kenalkan, kedua kakak tadi namanya Kak Fandy dan Kak Mega. Kirain mereka pacaran, ternyata temenan tapi pernah pacaran, lah (?) Gila, kepo abis urusan orang, perut diurus dulu, haha. Mereka berdua membawa kita ke salah satu tempat makan sekaligus tempat nongkrong di Malang namanya Simpang Luwe Food and Cafe. Kebetulan pas malam minggu, tempatnya rame dan harganya lumayan terjangkau kok, setidaknya bersahabat dengan kantong. Namanya juga liburan ya, harus hemat apalagi tanpa orang tua. Selesai makan, kita balik ke kost dan langsung ganti baju. Hore, perut kenyang, hati senang mau ngapa-ngapain enak. Katanya di Bromo dinginnya kurang ajar, ditambah kita naik motor, alhasil bertiga pake baju lima lapis dan celana dua lapis, sepasang sarung tangan, kaos kaki, sepatu, dan topi. Abis itu kepanasan, haha. Lebih baik daripada kedinginan ya.

Di depan kostan kita dua belas orang bertemu. Diawali dengan doa dan juga arahan oleh pacar Rani, Iyud. Kita pun berangkat bersama tiga motor vespa dan tiga motor biasa. Let's get it started! For the very first time now I know how it feels bertarung di jalanan yang panjang dan dingin ini malam hari. Karena kekuatan vespa yang tak sekekar dulu, maka wajarlah jika tiga vespa ini bergantian berhenti saat letih. Dengan kesetiakawanan yang dijunjung tinggi oleh para rider, maka mereka selalu saling membantu memberi kekuatan pada vespa yang getting down. Selain itu, kita berhenti beberapa kali karena hujan. Malam itu hujan terus saja turun dan apa boleh buat demi sunrise tetap diterjang padahal sudah diciprat becek sama truk gede di jalan. Naik darah iya, pengen balik iya banget. Tapi sayang, perjalanan sudah terlalu jauh dikit lagi nyampe. Sabar aja deh. Makin lama medan makin berat, jalanan licin, tikungan tajam, lebih tinggi suhu lebih rendah, sepatu-sarung tangan basah. Asli menggigil! Mau pulang ajaaaa! Pas masuk ke loket tiket perasaan udah lega, yes bentar lagi nyampe. Dan saya salah besar. Perjalanan masih tetap panjang juga, dari tadi bertanya-tanya ini kapan nyampenya sih? Kesel sama gapura yang PHP, hih. Di perjalanan saya sempat liat pemandangan kota malam hari dengan lampu-lampu. Bagus. Hari makin terang, tanda pagi menjelang, dengan tangan yang super menggigil saya maksa rekam perjalanan naik ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru waktu itu. Pohon-pohonnya tinggi, baru liat jadi takjub, harap maklum,

Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga, langsung liat sunrise! Wiiii keren keren keren, subhanallah if I could describe the sunrise looks not only that yellow but also gold. Mountains are gorgeous too. Can't stop taking pictures there. I know that all my body was shaking and numb but everytime I stare at the view I could just forget it.


Setelah liat sunrise, kita beranjak ke padang savana. Boleh juga jalanannya, terjal dan ga rata. Tapi saya sih ga begitu rasa karena liat pemandangan bagus banget sambil foto-foto dan rekam sana-sini. Sampe di bawah, rasanya gerah tapi suka lupa gara-gara pemandangan yang too gorgeous! Sesi foto-foto kembali berlanjut, foto bareng maupun selfie.


Lanjut berpindah lagi, sekarang ke Kawah Bromo. Sebelumnya, isi perut dulu karena ini udah pagi, baru naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali. Sayang banget sampe di atas yang ada kabut. Ya terpaksa turun lagi lah, well I've reached the crater already. Naik dua ratusan anak tangga lalu turun lagi itu ngeri ih, ngos-ngosan pula. Tapi saya sempat liat anak umur lima apa enam tahun gitu naik ke atas juga, super banget kau, nak.

 
 

Selesai sudah, perjalanan Bromo kita hari ini. Mari kita pulang. Jalan balik yang ditempuh lebih jauh. Selamat turun gunung. Sampai jumpa lagi, Bromo! I'll be here soon to see you again sunrise. 

Thanks to these people and their loyal rides who made this trip happened. We did it!
 

No comments:

Post a Comment